Welcome to Sanjaya Family Official Website

Klik here to know more

©2020 ALL RIGHTS RESERVED
ROLEPLAYER PURPOSES ONLY


About Sanjaya

soon

Wanna know more about the family? Sure, go ahead!

Sanjaya Group

Sanjaya Group merupakan perusahaan milik keluarga Sanjaya yang menaungi empat anak perusahaan, antara lain Djaya51, PT. Sanjaya Residence, Elektronik Sanjaya, dan Sanjaya Auto Wheels.

DJAYA51

PT. Sanjaya Residence

Elektronik Sanjaya

Sanjaya Auto Wheels

Sanjaya Family

blablabla

FIRST PILLAR

SECOND PILLAR

Hendra Mahardika Sanjaya adalah putra kedua dari Damar Sanjaya. Salah satu putra kebanggaan Sanjaya yang sukses pada bidang Real Estate. Hendra menikah dengan Kirana Ranupatma yang seorang Fashion Designer pada tahun 1990. Pertemuan tak terduga dengan Kirana yang saat itu sempat menerima pekerjaan untuk mendesain baju untuk karyawan Hendra berakhir menjadi hubungan yang berbahagia hingga pada jenjang Pernikahan. 




Setelah dua tahun menikah, kedua pasangan tersebut dikaruniai putri pertama mereka bernama Deepta Mentari Sanjaya. Kehadiran putri pertamanya membuat Hendra lebih bersemangat lagi untuk mengerjakan proyek Real Estate yang hampir rampung.




Dan pada tahun 1993 ia berhasil membangun perusahaan real estate miliknya sendiri yang dibantu oleh sang istriㅡKirana Ranupatma. Jatuh bangun ia rasakan kala itu namun berkat kegigihannya, ia berhasil mendirikan PT. Sanjaya Residence.




Ditengah membangun bisnis yang tengah dijalankan dan semakin berkembang karena suntikan dana yang diberikan oleh Ayahanda tercinta, pada tahun 1998 keluarga Hendra Mahardika Sanjaya dikaruniai seorang putra yang mereka berinama Nino Alfiano Sanjaya. Tentu dengan kelahiran putra ini, Hendra memiliki harapan yang sangat besar untuk anak laki-lakinya yang diharapkan bisa jadi penerusnya kelak.




Pada tahun 1999, kabar duka datang dari kerabat dekat HendraㅡAdimas. Adimas dan istrinya meninggal karena kecelakaan tunggal yang dialaminya dan meninggalkan seorang putri berusia 6 tahun. Hendra yang sudah menganggap Adimas seperti saudara sendiri berniat untuk mengurus dan membesarkan anak dari AdimasㅡIvana Maurineㅡdan berjanji untuk bisa mengasihinya seperti anaknya sendiri.




PT. Sanjaya Residence tumbuh semakin pesat, Hendra semakin disibukkan untuk bertemu para investor baik dari dalam maupun luar negeri. Kirana yang saat itu sedang hamil anak ketiga tetap setia mendampinginya. Kehadiran Kirana seakan membuat usaha Hendra semakin berjalan lancar. Pada tahun 2003, lahirlah anak ketiga mereka bernama Mettasha Silawarti Kusumaningrum Sanjaya. Anak bungsu Hendra tumbuh sedikit berbeda dari anak-anaknya yang lain, dapat dibilang Mettasha bisa melihat apa yang orang lain tak bisa lihat, hal itu cukup membuat Hendra dan Kirana terkejut. Akhirnya, saat Tasha ingin masuk sekolah dasar, ia dikirimkan ke kampung halaman dan tinggal di sana selama 6 tahun. 




Tidak hanya itu, kecemburuan Deepta terhadap Ivana pun sempat membuat keluarga Hendra bersitegang. Deepta yang merasa perhatian dan kasih sayang orangtuanya tercurahkan sepenuhnya kepada Ivana membuatnya tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia telah mendapatkan saudara tiri. Deepta sebelumnya sudah bersabar dan memaklumi ketika kelahiran Nino yang merupakan adik kandungnya, tetapi dengan Ivana ia merasa tidak senang. Selisih antara Deepta dan Ivana berlangsung cukup lama, keduanya akhirnya baru bisa menerima kehadiran satu sama lain ketika duduk di bangku SMP.




Baik Hendra maupun Kirana sebetulnya tidak ada yang memberikan perlakuan khusus untuk salah satu anaknya. Semua anaknya sama rata diberikan fasilitas yang memadai dengan segala keperluan akademik maupun non-akademik yang berkualitas. Tidak jarang anak dari keluarga Sanjaya ini dikenal sebagai anak dengan akademis yang bagus dan memiliki sopan santun yang baik.




Semakin bertambahnya usia baik Hendra, Kirana, dan keempat anaknya, harapan dan keinginan Hendra pun semakin besar. Terlebih ia harus memikirkan kepenerusan usaha yang bisa ia tinggalkan kapan saja mengingat umurnya tidak muda lagi. Sering kali hal ini membuat Hendra maupun Kirana seakan menekan anak-anaknya untuk bisa menggeluti dunia bisnis, terlebih di dunia Real Estate seperti milik Ayahnya terlebih bagi sang anak laki-laki yang sudah pasti akan ia berikan titah untuk memimpin perusahaannya kelak.

THIRD PILLAR

FOURTH PILLAR

Berawal dari pertemuan antara Dewa Anggoro Sanjaya dan Eka Noermanita Rahayu bak cerita manis romansa yang hanya ada di dalam film. Mereka bertemu ketika keduanya masih duduk di sekolah dasar, menjalin pertemanan sebab memiliki pandangan yang sama dan ingin menjadi juara kelas.

Pertemanan itu berlanjut menjadi persahabatan, sampai konsep tidak-ada-persahabatan-antara-pria-dan-wanita menyentuh permukaan. Dewa & Eka memutuskan untuk menjalin hubungan romansa kala memasuki sekolah menengah atas.

Semasa akhir masa sekolah hingga kuliah, Dewa semakin menggeluti hobi yang ia miliki, berhubungan dengan otomotif. Hobi ini didapatnya karena menyukai menemani sang Ayah pergi ke bengkel dan mengamati lingkungan sekitar. Ia memulainya dari mengotak-atik yang berujung pada menguasai bidang otomotif.

Setelah Dewa lulus kuliah dan siap untuk memasuki dunia kerja, ia mendapatkan mandat untuk meneruskan salah satu anak perusahaan dibawah naungan Sanjaya Group yang bergerak dibidang otomotif, Sanjaya Auto Wheels.

Mengingat pekerjaan sudah di tangan, Dewa semakin percaya diri untuk mengambil langkah lanjut dengan Eka. Mereka memilih jalan sakral, yaitu pernikahan yang berlangsung pada tahun 1992.

Setelah menikah, Eka mengungkapkan ketertarikannya pada bidang busana yang sudah ada sejak dulu. Ia ingin mewujudkannya dengan menjadi Fashion Designer. Dewa pun tidak masalah dengan keinginan Eka, ia merasa senang dan bangga atas istrinya. Bahkan, juga membantu Eka untuk menemukan tempat atau perusahaan yang cocok untuk Eka bekerja.

Akhirnya, keduanya pun memilih untuk pindah dan tinggal di Ibu Kota guna mempeluas sayap bisnis yang dijalani.

Pasangan Dewa dan Eka dikarunai 1 orang anak laki-laki, 2 anak perempuan. Dewa dan Eka mengetahui bahwa ketiga anaknya memiliki minat dan bakat berbeda, sebagai orangtua mereka ingin mendukung minat anak-anaknya dan memberikan kebebaskan anak-anaknya untuk memilih masa depan mereka. Namun meskipun begitu Dewa dan Eka selalu menekankan bahwa suatu saat nanti anak-anaknyalah yang akan melanjutkan perusahaan keluarga maka dari itu mereka selalu mengingatkan agar anaknya tetap ikut berpartisipasi untuk mengelola perusahaan sejak dini.

Meskipun memiliki latar belakang keluarga menengah keatas, Dewa mendidik anaknya agar mandiri dan mendapatkan keinginan mereka dengan usaha mereka sendiri dengan begitu anaknya mengerti apa arti kehidupan. Dewa merupakan sosok yang tegas dan berwibawa namun ia sangat lembut dan penyayang kepada keluarganya.

Sedangkan Eka sama seperti kebanyakan ibu lainnya yang memiliki sikap lembut dan mengayomi, ia selalu percaya, mendukung semua keinginan dan apa yang di kerjakan oleh anak-anaknya.

Pada tahun 1993, pasangan Dewa dan Eka dikaruniai seorang bayi laki-laki yang diberi nama Garda Kean Abhivandya.

Garda tumbuh menjadi seorang pria yang cerdas dan mandiri. Keberuntungan yang didapat dari keluarganya yang sangat berada membawanya melanjutkan pendidikan tinggi diluar negeri. Meski disibukkan dengan bisnis dan pekerjaan, kedua orangtuanya berusaha mendidik Garda dengan baik dengan harapan agar ia dapat meneruskan bisnis yang diturunkan dari ayahnya kelak.

Sebagai anak pertama dan seorang laki-laki, ia mengemban tanggung jawab yang besar untuk keluarganya nanti di masa depan. Disamping pekerjaannya diperusahaan otomotif milik keluarga yang dikepalai oleh ayahnya, Garda juga merintis karirnya dari awal, yaitu sebuah bisnis yang bergerak dalam bidang event creator.

Ainsley Azkayra Sanjaya, anak kedua pasangan Dewa dan Eka yang lahir tahun 1999. Berbeda dengan adiknya Ainsley atau yang sering disapa iLey itu memiliki pribadi bebas dan sedikit lebih maskulin dalam ekspresi penampilan dan kepribadian, tak jarang membuatnya sering beradu argumen dengan sang mama perihal pakaian. Namun ia tetaplah seorang anak perempuan yang lembut dan ceria, ia selalu bermanja dan mengadu pada kedua orangtuanya.

Ainsley memiliki ketertarikan dibidang yang sama seperti kakak pertamanya, tak jarang ia ikut menjadi salah satu volunteer sebuah event acara baik yang dibuat langsung oleh kakaknya atau orang lain, ia selalu mengajukan diri.

Kepribadiannya yang bebas membuatnya memiliki rasa pemasaran yang tinggi dan membuatnya tak ragu untuk mencoba hal baru, walau terkadang ia gagal jatuh terpuruk namun berkat kedua orangtua, kakak dan adiknya, ia selalu bisa bangkit dan bersemangat lagi.

Tahun 2000, pasangan Dewa dan Eka kembali diberi karunia. Baby Sonia Giselle Halena lahir dan menjadi pelengkap keluarga kecil mereka. Sonia adalah anak yang sangat manja dibandingkan Ainsley. Ia merasa harus mendapatkan keinginannya tanpa harus menunggu waktu lama, sekarang itu juga. Walaupun seperti itu, Dewa tidak memberikan segalanya kepada Sonia. Dewa benar-benar tegas pada bidang pendidikan, ia mendaftarkan anak terakhirnya di sekolah sekretaris—guna membekalinya dengan ilmu yang dapat berguna kelak di perusahaannya.

Sonia menunjukkan sisi mandiri terhadap bidang yang ia geluti, yaitu menulis. Sang puan tidak pernah meminta bantuan orang tua dalam mempublikasikannya, ia melakukannya dengan usaha sendiri. Menulis dijadikan salurannya untuk mengisi waktu luang, juga bekerja paruh waktu agar tidak bosan di rumah dan mendapatkan koneksi baru.